Wednesday, March 14, 2012

Re: [marketing-club] Digital Marketing Media vs Conventional Media

 

Dear Marketer,

Ternyata dugaannya salah semua, itu iklannya di modalin Bank Mega.
Mau niru Hagen Daz- Bank Mandiri, tapi cuma 1 hari, besok doank ... takut rugi banyak :)

Promo nya mengunakan kartu kredit Bank Mega discount 50% untuk kemasan tabung yg di bawa pulang. Jika membawa guntingan kupon nya, di kasih gratis ice cream scoop.

Jadi maksud memberikan coupun di print-ad nya masih merupakan misteri marketing :P

salam,
handojo


From: Handojo Soetanto <boenming@yahoo.com>
To: "marketing-club@yahoogroups.com" <marketing-club@yahoogroups.com>
Sent: Tuesday, March 13, 2012 3:51 PM
Subject: Re: [marketing-club] Digital Marketing Media vs Conventional Media

 
Dear Marketer,

Pemikiran Om Prabawa ini menarik .... Sangat masuk akal kalau itu iklan biasa, kemudian Om Baskin mau mengukur keefektifan twitter nya ... Jadi free ice cream hanya diberikan yang mengikuti twitter nya serta yang baca thread ini :)

Tebakan yang bagus Om Pabawa, semoga dapat hadiah dari Om Baskin :P

salam,
handojo


From: Basilius Prabawa <bprabawabr@gmail.com>
To: marketing-club@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, March 13, 2012 1:01 PM
Subject: Re: [marketing-club] Digital Marketing Media vs Conventional Media

 
Salam marketer,
Maaf, karena tidak berlangganan suratkabar2 tsb, saya kurang tau, apakah promo tsb juga tertulis di iklannya?
Kalau promo tsb tertulis juga di iklannya, berarti media promosi utamanya tetap media cetak, dan twitter sebagai komplemennya saja. Demografi pelanggan mediacetak harian dan follower Twitter kan sepertinya cukup berbeda. Ditambah lagi me-maintain acct Twitter tentunya butuh dana dan komitmen jauh di bawah 500jt :)
Kalau promo tsb tidak tertulis di iklannya, shg orang2 bisa tau kalau iklan tsb bisa ditukarkan hanya melalui twitter saja, maka menurut pendapat saya mereka sedang berusaha mengukur impact dari blast info via tweet tsb..
Iseng nebak2 aja sih, FWIW.. :)
Salam marketerzzzzz
Basilius Prabawa B
(Powered by Google Android)
On Mar 13, 2012 10:49 AM, "Sarita Sutedja" <saritasutedja@yahoo.com> wrote:
 
Salam marketer,

Mungkin saya belum expert dalam hal media, tapi klo boleh sedikit sumbang opini, ini point of view saya:

IMHO, bicara konvensional or digital, they just a media. Key point utama disini saya kira terletak pada target audience nya siapa, tujuan campaignnya apa, campaign message nya apa, baru bicara pemilihan media nya apa.
Lebih fokus lagi: apakah target audience itu akan di konversikan menjadi target market or just targeted to be buy influencer saja.

Penggunaan media digital skrg memang sdg booming dg banyaknya data yang menunjukan bahwa di 10 kota besar di Indonesia penggunaan media terbesar tetap TV tapi kedua terbesarnya adalah internet, bahkan di 3 kota (Jakarta, Denpasar dan Pekanbaru) konsumsi media terbesar adalah internet dibandingkan TV.
Data dari Marketeers Indonesia Youth Survey 2011, sumber: Majalah Marketeers edisi Mei 2011.
Dan juga data dari www.socialbakers.com: user FB di Indonesia: 35.482.400 twitter: 4.883.228 (tahun 2011)

Jadi mungkin dengan potensi sebanyak itu yg diperlukan marketers justru lbh ke kreatifitas dalm menciptakan hubungan, lbh dalam lagi: engagement, dan lebih dalam lagi bisa di monetize.

Back to kasusnya Mr. Robbins:
Untuk pemasangan iklan di media cetak dan di 'iklankan' lagi ke media twitter, saya kira ada sebuah allignment yg sangat kuat di dalam internal Mr. Robbins, justru saya melihat dari campaign yg dilakukan sangat terkoneksi, message campaign yg dilakukan sama walaupun menggunakan media yg berbeda: konvensional (minjem istilah Bang Ken): media cetak koran, maupun di digital: twitter.

Walah.... Kepanjangan kayaknya comment saya :D
Maaf... Atas kecerewetan saya yg susah berhenti.
Sekian opini dari newbie yg memberanikan diri untuk comment2 :p

Have a bright and sunny day marketers... Cheerrss... ^ ^

follow me on twitter @saritasutedja I creasionbrand I
www.creasionbrand.blogspot.com
www.ceritaapaadanya.blogspot.com
www.ceritaperut.com

From: Handojo Soetanto <boenming@yahoo.com>
Date: Mon, 12 Mar 2012 19:35:06 -0700 (PDT)
Subject: Re: [marketing-club] Digital Marketing Media vs Conventional Media

 
Dear Cak Ken dan Marketer,

Sebenarnya menggunakan beberapa channel sekaligus untuk berkomunikasi itu tidak masalah bahkan dianjurkan jika bisa sinergi. Misalkan Cak Ken lagi pameran disatu lokasi, di anjurkan Cak Ken menggunakan media lain misalkan radio atau internet yang mengabarkan kegiatan di lokasi sehingga orang-orang yang tidak di lokasi bisa mengikuti acara nya. Masih banyak hala-hal sinergi yang bisa dilakukan di media manapun.

Kasus ini jadi menarik sewaktu kita lihat Om Robbins ini menggunakan kupon di print tapi menggunakan twiitter untuk meng-ampifikasi-kan. karena biasanya kalau menggunakan kupon, kita belum yakin akan efektifitas medianya, sehingga kita mencoba mengukur responnya dengan kupon yg dikembalikan. Menggunakan amplifikasi dengan twitter akan membuat pengukuran dengan kupon menjadi bias.

Yang agak aneh lagi penggunaan kupon disini, media print yang digunakan adalah media paling mahal semua. Budgetnya kalau full colour saya rasa di atas Rp 500juta. Seharusnya dengan menggunakan media mahal, asumsinya media itu cukup efektif, tidak perlu diukur pakai kupon lagi.

Om Baskin ini kan outletnya di mall semua yang notabene pasti ramai. Menurut saya kalau iklan discount begini, mereka cukup memasang promo material di outlet dan sebarin leaflet atau kalau mau mendatangkan orang di luar mall, menggunakan voucher discount seperti uluyu.com, disdus dll, akan lebih efektif.

Uang Rp 500 jt nya bisa buat campaign lain yang lebih cool :)

salam,
handojo


From: Ken Yulian <ken_juliant@yahoo.com>
To: "marketing-club@yahoogroups.com" <marketing-club@yahoogroups.com>
Sent: Tuesday, March 13, 2012 9:13 AM
Subject: [marketing-club] Digital Marketing Media vs Conventional Media

Salam Marketer,

Dalam sebuah diskusi kecil di group BBM, sahabat saya, Ronald posting capture screen dari tweet Baskin RobbinsID. Isi tweet-nya kira2 begini: dapetin potongan iklan di Jawa Pos, Suara Merdeka, Fajar, Kompas, Pikiran Rakyat, dan Analisa dan tuker dg free Ice Cream khusus 14 Maret.

Pertanyaan Ronald begini, simple sih, kalo sdh ngiklan di twitter ngapain juga masih butuh conventional media? Dalam pikiran jelek saya,  apa digital marketing yang digembar-gemborkan sangat efektif dg puluhan juta users itu ternyata mandul? Atau beriklan di media konvensional yg ga efektif? Sehingga harus di-boost lewat twitter juga?

Atau sebenarnya kedua channel media ini masih susah dipercaya bila digunakan salah satu saja? Agghhh, lagi-lagi asumsi paling bego yg terlintas ya, both of them may be not realiable. Mesti di-integrate baru bisa bunyi, baru bisa nendang, baru bisa produce awareness dan money.

Kalau menurut Anda bagaimana tuh melihat case ini? Hayoo, yg suka ngasi seminar/workshop social media ikut discuss ya. Langsung aja deh Stefanie Kurniadi wajib komen.

Salam

Ken Yulian
Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

Join Marketing Club Social Network!
Enjoy more closer relationship and networking.
facebook : marketingclubbers@yahoo.co.id
Twitter : @MarketerClubber
LinkedIn : Group Marketing ClubYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/marketing-club/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/marketing-club/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    marketing-club-digest@yahoogroups.com
    marketing-club-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    marketing-club-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/







__._,_.___
Recent Activity:
Join Marketing Club Social Network!
Enjoy more closer relationship and networking.
facebook : marketingclubbers@yahoo.co.id
Twitter : @MarketerClubber
LinkedIn : Group Marketing Club
.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment